Obrolan Warung Kopi | Norman Kamaru

Posted: 15 Desember 2011 in Obrolan Warung Kopi
Tag:

…. Polri memang punya alasan tersendiri sebagai pembenarnya, seperti Norman yang sudah desersi dan angkuh alias tak lagi menghormati atasannya. Namun, perlu juga dipahami bahwa Norman hanyalah anak yang sedang mendapat mainan baru. Jadi, ia memang sedang senang dengan sesuatu yang baru di luar kehidupannya yang monoton dan disiplin selama ini….

Oleh: Irwan P. Ratu Bangsawan

Karier Briptu Norman Kamaru di Polri berakhir sudah. Ia dipecat dari institusinya tersebut dengan menyandang predikat yang tidak sedap, yaitu berhenti tidak dengan hormat.

Dari pihak Norman sendiri nampaknya tidak mempersalahkan pemecatan tersebut. Hal ini tidak lain karena mereka sudah terlanjur kecewa dengan Polri. Mengapa? Konon, inilah alasannya: 1) Norman dijanjikan menjadi ikon Polri sebab ia telah membawa dampak positif dalam pencitraan Polri. Namun, janji tersebut tak ditepati, 2) Norman merasa terkekang untuk mengembangkan dan mengekspresikan bakat musik dan tari yang dimilikinya. Ia malah beberapa kali ditangkap dan digelandang Provos kembali ke Gorontalo saat manggung di Jakarta. Padahal Norman dijanjikan kalau weekend diberi waktu, 3) Norman ternyata telah terikat kontrak kerja dengan satu label musik di Jakarta, Falcon. Namun, ia kesulitan menjalankan isi kontrak itu lantaran terkekang aturan anggota kepolisian.

Soal diberhentikan bekerja dari suatu institusi sebenarnya merupakan hal yang biasa. Namun, diberhentikan tidak dengan hormat, adalah hal yang berbeda. Sebab diberhentikan dengan predikat tersebut mengandung konsekuensi terhapusnya sebagian hak-hak sipil seseorang. Norman, misalnya, ke depan sudah tidak mungkin lagi menjadi pegawai, apa lagi jadi pejabat seperti menjadi anggota DPR dan Bupati (seperti yang saat ini menjadi trend di dunia selebritas). Nah, loh!

Polri memang punya alasan tersendiri sebagai pembenarnya, seperti Norman yang sudah desersi dan angkuh alias tak lagi menghormati atasannya. Namun, perlu juga dipahami bahwa Norman hanyalah anak yang sedang mendapat mainan baru. Jadi, ia memang sedang senang dengan sesuatu yang baru di luar kehidupannya yang monoton dan disiplin selama ini.

Norman semestinya bukan dipecat tapi dijadikan ikon Polri (yang lebih humanis) sebagaimana yang pernah dijanjikan. Ia, mungkin sudah tidak tepat lagi menjadi anggota Brimob, tapi bukankah di Polri masih ada institusi seperti Polisi Pariwisata yang sangat paham tentang dunia hiburan?

Nasi sudah menjadi bubur. Demikian pula nasib Norman. Bagaimanakah nasib Norman di dunia hiburan dan selebritas ke depan? Wallahua’lam bi shawwab (***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s