Catatan Menuju Pemilukada Banyuasin 2013: MENIMBANG KEMBALI PUTRA DAERAH SEBAGAI CALON KEPALA DAERAH

Posted: 10 April 2012 in Catatan Politik
Tag:, , , , , , , ,

Oleh: Irwan P. Ratu Bangsawan

…. Munculnya isu putra daerah mau tidak mau membuat persaingan menuju Banyuasin 1 semakin panas. Kuatnya isu ini tentu akan menghadang laju A. Rachman Hasan, yang notabene bukanlah putra daerah. Bakal calon yang akan diusung Partai Demokrat ini, diprediksikan tidak akan dengan mudah memenangkan perebutan posisi orang nomor satu di Banyuasin….

            SEIRING dengan semakin dekatnya Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Banyuasin pada 2013 mendatang, suhu politik di kabupaten yang berjulukan Bumi Sedulang Setudung semakin menghangat. Beberapa nama yang dipastikan maju sebagai bakal calon antara lain Hazuar Bidui (tokoh masyarakat Banyuasin), A. Rachman Hasan (Wakil Bupati/incumbent), dan Sofran Nurozi (birokrat).

Munculnya nama-nama tersebut tentu tidak terlepas dari aspirasi yang berkembang di tengah masyarakat. Aspirasi tersebut merupakan keinginan masyarakat agar Banyuasin ke depan adalah Banyuasin yang sejahtera dan berkeadilan.

Seiring dengan itu, berkembang juga aspirasi agar pemimpin Banyuasin pasca-Amiruddin Inoed haruslah putra daerah. Pengacara kawakan Alamsyah Hanafiah, misalnya, menilai bahwa kepemimpinan putra daerah akan lebih baik karena wujud kecintaan putra daerah terhadap kemajuan dan pembangunan tanah kelahirannya akan lebih besar bila dibandingkan mereka yang bukan putra daerah. Alamsyah juga berpendapat, jika pemimpin yang dipilih merupakan putra daerah, dia akan tahu bagaimana peta permasalahan, perkembangan adat istiadat, ekonomi, dan kultur masyarakat.

Haruskah Putra Daerah?

Memang harus diakui bahwa secara regulasi tidak ada alasan yang dapat digunakan untuk melarang warga dari daerah atau etnis lain untuk memimpin suatu daerah. Tidak ada satu pun aturan yang mensyarakan bahwa kepala daerah haruslah putra daerah setempat. Belum lagi kerumitan merumuskan definisi putra daerah.

Namun, isu putra daerah ini memang kerap muncul setiap kali Pemilukada digelar di wilayah manapun. Munculnya isu tersebut tentu saja harus disikapi secara arif oleh elit politik yang ada. Alasan bahwa regulasi memang tidak mengatur kewajiban partai politik untuk mengusung putra daerah, tentu tidak dapat diterima begitu saja oleh masyarakat.

Munculnya isu putra daerah mau tidak mau membuat persaingan menuju Banyuasin 1 semakin panas. Kuatnya isu ini tentu akan menghadang laju A. Rachman Hasan, yang notabene bukanlah putra daerah. Bakal calon yang akan diusung Partai Demokrat ini, diprediksikan tidak akan dengan mudah memenangkan perebutan posisi orang nomor satu di Banyuasin.

Hadirnya Hazuar Bidui dan Sofran Nurozi sebagai putra daerah Banyuasin dalam perebutan kandidat Bupati merupakan tantangan yang tidak mudah untuk dilalui oleh sang petahana (incumbent).

Kelebihan kedua bakal calon asli Banyuasin tersebut adalah mereka sangat mengenal daerah dan karakteristik masyarakat Banyuasin, di samping keduanya juga dikenal dekat dengan keseharian masyarakat. Jadi, mereka memiliki kekuatan akar rumput (grass root) yang tidak mudah untuk disingkirkan. Keduanya juga dikenal luas bukan dari banyaknya baliho yang terpasang, melainkan dari kerja kemasyarakaan yang telah lama mereka lakukan.

Hati-hati dengan Isu Putra Daerah

Isu putra daerah sesungguhnya merupakan isu yang sudah cukup usang. Jadi, para kandidat kepala daerah Banyuasin jangan terpaku pada perdebatan putra daerah dan bukan putra daerah, tapi harus pada transaksi gagasan dalam membangun dan membenahi Banyuasin ke depan. Kemampuan dalam transaksi gagasan oleh para kandidat tersebut sejatinya akan mampu mendongkrak elektabilitasnya.

Para bakal calon kepala daerah Banyuasin harus hati-hati dalam mengangkat isu putra daerah dan bukan putra daerah. Sebab sebagai daerah yang multietnis, Banyuasin merupakan milik semua golongan. Penggunaan isu ini secara berlebihan akan menimbulkan konflik horizontal di tengah masyarakat. Bila tidak ditata secara arif, bukan tidak mungkin penggunaan isu putra daerah dapat menjadi bumerang bagi sang kandidat.

Akhirnya, sebagaimana diungkapkan Rustinah (2008), diskusi tentang putra daerah versus bukan putra daerah boleh jadi penting, tetapi bukan segalanya. Menurutnya, soal putra daerah atau bukan sebetulnya perkara sekunder belaka. Sementara yang lebih primer adalah kelayakan kepemimpinan sang kandidat.

Pemilih yang hanya menimbang “keaslian darah” sang kandidat berarti menjebak diri menjadi “pemilih primordial”. Mereka belum menjadi “pemilih rasional-kalkulatif,” yang menimbang perkara putra daerah dalam kaitan dengan kualitas kelayakan kepemimpinan sang kandidat.

Pemilih rasional-kalkulatif, sambil menimbang asal daerah kandidat, mempersoalkan: Seberapa jauh sang kandidat terbukti memiliki pemahaman, pengetahuan dan empati yang layak terhadap persoalan-persoalan daerah? Seberapa realistis dan menjanjikan rancangan program dan kebijakan-kebijakan yang ditawarkannya?

Seberapa jauh pula ia bisa dipercaya, terutama dikaitkan dengan rekam jejak karier politik dan ekonominya? Adakah jejak korupsi (politik dan/atau ekonomi) dalam karier itu? Seberapa besar kemauan dan komitmen sang kandidat untuk bekerja keras dan mewakafkan seluruh waktunya sebagai pemimpin daerah? Seberapa mampu ia membangun kepemimpinan kolektif yang profesional, kompeten, dan berintegritas? (***)

*) Penulis adalah pekerja seni di Banyuasin

Komentar
  1. Anonim mengatakan:

    yang penting banyuasin lebih maju

  2. Anonim mengatakan:

    Ok, tks atas perhatiannya….

  3. Menurut pendapat saya sebagai anak banyuasin asli yang dilahirkan di desa petaling jaya,” Tidak perlu putra daerah karena banyuasin ini hidup berbagai etnis,saya pernah kecewa saat saya merantau bahwa orang banyuasin itu apabila sudah memegang jabatan sombong,beda dengan persatuan yang dimiliki oleh suku lain seperti komering,lahat,dll,mereka bahu membahu membantu orang mereka yang belum berhasil,inilah bung..harapan saya kedepan yang saat ini ingin merubah mindset orang asli banyuasin yang memegang jabatan bahwa mereka tergerak untuk membantu generasi yang akan datang apabila belum berhasil,saya rasa bang Indra setuju dengan pengalaman pribadi saya ini…..

  4. Secara umum memang ada wong Banyuasin yang seperti itu. Namun, kita tentu harus adil juga memberikan kesempatan kepada putra daerah untuk menjadi pemimpin di negerinya sendiri. Wallahua’lam bi shawwab….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s