Sejarah Dibangunnya Taman Wisata Punti Kayu

Posted: 25 November 2012 in Berita Parsenpor, Pariwisata dan Promosi

…. Kala itu, pusat pemerintahan Palembang dibangun Belanda berada di kawasan Merdeka hingga Bukit Kecil. Sedangkan kawasan Punti Kayu dulunya masuk Kabupaten Muba. “Punti kayu ini masuk dataran rendah. Ternyata, pohon tanaman Belanda ini berhasil dikembangkan. Tapi, Belanda sih gak bisa melihat perkembangannya….

Sejak lama Taman Wisata Alam Punti Kayu diketahui telah berkembang menjadi hutan pinus. Tak banyak mengetahui, jika kawasan tersebut sengaja ditanam pemerintah Kolonial Belanda sejak tahun 1937 lalu. Awalnya, luas lahan dikembangkan mencapai 98 hektar, kini tersisa 50 hektar. Sebelum Punti Kayu, taman wisata alam tersebut pernah dinamakan Taman Sari serta Syailendra. Bagaimana perkembangan hutan Punti Kayu dari masa ke masa? Berikut liputan Sumeks Minggu.

 Ada lima jenis pohon ditanam di kawasan Punti Kayu. Mulai dari batang pinus, akasia, mahoni, talog hingga angsana. Dari ribuan batang pohon tersebut, 80 persen kawasan ditanami dengan pinus. “Sisanya baru empat jenis pohon lain,” ungkap H Antoni Puspo SE, Humas PT Indosuma Putra Citra, penggelola Taman Wisata Punti Kayu kepada Sumeks Minggu, Rabu (1 7/10) lalu. 

Dilihat dari tinggi serta ukuran batang, tentu saja, pohon yang ada sudah cukup berumur.  Wajar saja, pohon yang ada, sudah ditanami sejak zaman Belanda, tepatnya tahun 1937 lalu. Luas lahan ditanami Belanda kala itu mencapai 98 hektar. Dari keterangan Toni, Belanda kala itu sengaja menanami 98 hektar kawasan untuk uji coba.

Kala itu, pusat pemerintahan Palembang dibangun Belanda berada di kawasan Merdeka hingga Bukit Kecil. Sedangkan kawasan Punti Kayu dulunya masuk Kabupaten Muba. “Punti kayu ini masuk dataran rendah. Ternyata, pohon tanaman Belanda ini berhasil dikembangkan. Tapi, Belanda sih gak bisa melihat perkembangannya,” ujarnya. 

Lanjut pria kelahiran 1957 ini, ketika dirinya kecil, hutan pinus sudah berkembang pesat. Punti kayu sendiri, sejak kemerdekaan, menurutnya sudah dikembangkan menjadi kawasan taman. Tahun 1960 an, namanya Taman Sari. Kemudian berganti dengan nama Syailendra.

Hanya saja, ketika itu, taman dikembangkan benar-benar natural. Bahkan, sekelas macan liar pun pernah dilihatnya. “Waktu kecil, saya pernah lihat macan di kawasan ini. Itulah kenapa, kalau dulu, orang yang mau berkunjung, mesti bawa mobil. Kaca mobilnya gak boleh dibuka,” jelasnya. 

Terkait nama Jl Macan Lindungan sendiri, diyakini Toni terkait dengan macan yang ada di punti kayu. Nama kawasan tersebut menurutnya karena banyak macan dari punti kayu yang lari, kemudian berlindung. “Itulah jadi nama macan lindungan. Artinya tempat macan punti kayu berlindung,” jelasnya. 

Tanah Dihibahkan, Berkurang 48 Hektar

Perihal berkurangnya lahan hutan punti kayu, mengacu pada surat persetujuan Direktur Jendral Kehutanan Nomor:133/DJ/I/1980 tanggal 26 April 1980. Intinya, luas lahan punti kayu dikeluarkan 48 hektar untuk keperluan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel, Kodam II/Sriwijaya serta asrama polisi. 

“Daerah museum Balaputra Dewa itu dulu masuk daerah punti kayu. Dulu, waktu namanya masih Taman Sari dan Syailendra, pintu masuknya dari sana (museum Balaputra Dewa,red),” jelas Toni. 

Terkait nama punti kayu sendiri tampaknya mulai didengungkan berdasarkan SK Menteri Kehutanan tanggal 7 Maret 1985 No57/KPTS-II/1985. Sejak itulah, punti kayu ditetapkan sebagai hutan wisata. 

Seputar asal muasal nama punti kayu sendiri sulit dipastikan. Entah dari mana kata itu berasal, jika dikaitkan dengan lingkungan di Punti Kayu samasekali tidak ada hubungan. Di kawasan OKI serta Komering, punti kayu sendiri berarti pohon atau buaya pepaya. Hanya saja, 14 tahun bekerja di Punti Kayu, Toni tidak pernah melihat kerubunan pohon pepaya.

Dikelola Swasta 30 Tahun, Diawasi BKSDA

Terkait masuknya perusahaan swasta, PT Indosuma Putra Citra diceritakan Toni terjadi sejak tahun 1995 lalu. Pihaknya mendapat kontrak selama 30 tahun untuk menggelola Punti Kayu. Berarti, sisa kontrak PT Indosuma berakhir tahun 2025.

Sebelumnya terdapat perusahaan lain ditunjuk Departemen Kehutanan. Gara-gara incident, jatuhnya menteri pariwisata RI Joop Ave di jembatan saat meresmikan punti kayu, perusahaan tersebut mundur. Seputarnya jatuhnya pejabat sekelas menteri ini, sejak dulu menjadi perbincangan hangat warga. Meski tak banyak media berani memberitakan.

“Wajar sih, itu masih zamannya pak Soeharto. Perusahaan itu gak mampu, jadi PT Indosuma yang ditunjuk,” jelasnya.

Saat ini terdapat 39,9 hektar lahan yang dapat diefektifkan PT Indosuma sebagai tempat rekreasi. Hanya saja, dari lahan yang ada, baru seperempatnya saja yang bisa dioptimalkan. Itulah yang saat ini dijadikan tempat satwa (beruang, buaya, siamang, elang bondol, ular, kuda, gajah dll), kreasi anak (kincir angin, roda berputar dll), kolam renang, water park, flying fox, out bond training, danau rekreasi. 

Sisanya cukup sulit dikembangkan. Alasannya, Punti Kayu merupakan hutan konservasi yang tidak boleh diganggu gugat. Jangankan pohon ditebang, pohon yang roboh sekalipun dilarang diganggu gugat. “Jadi kita mesti cari space kosong tanpa merubah lingkungan yang ada. Karena kita dibawah pengawasan BKSDA sebagai perpanjangan tangan BKSDA,” jelasnya.

Meski kini mulai bermunculan tempat bermain anak, menggusung berbagai tema, Punti Kayu hingga kini lanjut Toni tidak pernah sepi kunjungan. Hari Sabtu serta Minggu, kunjungan masyarakat bisa mencapai 1.000 lebih. 

“Kita bisa saja bangun water boom seperti yang sekarang lagi booming. Dana perusahaan siap. Cuma kendalanya, bagaimana kalau nanti kontrak kita habis. Itu modalnya besar,” tandas Toni.

Lantas bagaimana peranan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel? Sulit dijawab. Beberapa hari lalu ketika Sumeks Minggu mengunjungi kantor BKSDA, seorang staf mengatakan pihaknya tidak dapat berkomentar karena Kepala Kantor tidak berada di tempat. “Kalau memang perlu, masukin saja surat permintaan,” tandas staf tersebut. (wwn)

Written by: samuji

Sumber: Sumeks Minggu

Iklan
Komentar
  1. meta nf berkata:

    baru tau,pohon pinus bisa tumbuh didataran rendah dengan baik

  2. iya Bu… Di Palembang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s