BUSANA TRADISIONAL SUMATERA SELATAN

Posted: 24 Desember 2012 in Berita Parsenpor, Seni Budaya

…. dengan kain songket dan kain pelanginya ini terdapat 12 jenis bahasa daerah dan delapan suku, di antaranya dominan adalah Suku Palembang, Suku Komering, Suku Ranau, dan Suku Semendo, Suku Ogan, Suku Pasemah, Suku Gumai, Suku Lintang, Suka Musi Rawas, Suku Meranjat, Suku Kayu Agung, Suku Kisam….

BANYUASIN MEMUKAU@Sumatera Selatan di kenal juga dengan sebutan Bumi Sriwijaya karena wilayah ini di abad VII – XII Masehi merupakan pusat kerajaan maritim terbesar dan terkuat di Indonesia yakni Kerajaan Sriwijaya. Pengaruhnya bahkan sampai ke Formosoa dan Cina di Asia serta Madagaskar di Afrika.

Di provinsi yang amat sangat terkenal dengan kain songket dan kain pelanginya ini terdapat 12 jenis bahasa daerah dan delapan suku, di antaranya dominan adalah Suku Palembang, Suku Komering, Suku Ranau, dan Suku Semendo, Suku Ogan, Suku Pasemah, Suku Gumai, Suku Lintang, Suka Musi Rawas, Suku Meranjat, Suku Kayu Agung, Suku Kisam. Untuk menjaga keragaman ini tetap berada dalam harmoni, pemerintah lokal membuat peraturan daerah yang bertujuan untuk mengelola kebudayaan yang ada. Peraturan ini mencakup pemeliharaan bahasa, sastra serta aksara daerah, pemeliharann kesenian, pengelolaan kepurbakalaan kesejarahan serta nilai tradisional dan museum. Pariwisata Sumatera Selatan bahkan dalam koridor peraturan daerah in, agar pariwisata di sana tetap berbasis kebudayaan Sumatera Selatan di satu sisi dan bernilai ekonomi tinggi di sisi yang lain.

Masyarakat Sumatera Selatan umumnya hidup rukun dan agamis. Selama periode 2004 – 2006, misalnya, tidak terdapat catatan buruk tentang konflik antar kelompok atau antarsuku tertentu. Kendati demikian, sebagai langkah preventif pemerintah harus berupaya menggalang kerukunan diantara masyarakatnya dengan menghadirkan tokoh agama terkenal, dan lain sebagainya. Di berbagai forum semacam itulah pemerintah menekankan pentingnya harmoni dan stabilitas demi kelanjutan pembangunan.

1. KAIN SONGKET

Songket adalah jenis kain tenunan tradisional Melayu yang berasal dari Indonesia dan Malaysia. Songket biasanya ditenun dengan tangan dengan benang emas dan perak dan pada umumnya dikenakan pada acara-acara resmi.

Asal-usul kain songket adalah dari perdagangan zaman dahulu di antara Tiongkok dan India. Orang Tionghoa menyediakan sutera sedangkan orang India menyumbang benang emas dan perak. Akibatnya, jadilah songket.

Kain songket ditenun pada mesin tenun bingkai Melayu. Pola-pola rumit diciptakan dengan memperkenalkan benang-benang emas atau perak ekstra dengan penggunaan sehelai jarum leper.

Ragam motif songket kaya akan local content, seperti jenis flora dan fauna setempat. Motif itu diteruskan dari generasi ke generasi serta memiliki beragam makna.

Songket yang eksklusif membutuhkan waktu sekira tiga bulan dalam penyelesaiannya. Songket jenis ini biasanya menggunakan pula benang sutera sebagai paduannya. Sedangkan yang berkualitas standar, bisa diselesaikan dalam waktu satu hari, karena sekarang bisa menggunakan mesin dalam pembuatannya.

Selain Indonesia, Malaysia pun mengenal songket sebagai salah satu busana tradisionalnya. Karena itulah, Pemprov Sumatera Selatan yang terkenal dengan songketnya, mengajukan hak paten 98 motif songket. Ini untuk menghindari klaim paten motif yang dipercaya merupakan hasil aseli wilayah Sumatera Selatan.

Memang saat ini, yang paling terkenal dengan kain songketnya adalah Palembang. Namun Minangkabau pun merupakan penghasil songket sejak dahulu.

Songket palembang merupakan ratunya kain dan merupakan warisan budaya yang bernilai tinggi sejak zaman dahulu kala. Kain songket juga merupakan Mahkota Seni Penenunan yang bernilai tinggi. Teknik Pembuatannya memerlukan kecermatan tinggi.

Songket harus melalui delapan peringkat sebelum menjadi sepotong kain dan masih ditenun secara tradisional. Karena penenun biasanya dari desa, tidak mengherankan bahwa motif-motifnya pun dipolakan dengan flora dan fauna lokal. Motif ini juga dinamai dengan kue lokal Melayu seperti seri kaya, wajik, dan tepung talam, yang diduga merupakan favorit raja.

Songket eksklusif memerlukan di antara satu dan tiga bulan untuk menyelesaikannya, sedangkan songket biasa hanya membutuhkan sekitar 3 hari.

Mulanya laki-laki menggunakan songket sebagai destar atau ikat kepala. Kemudian barulah wanita Melayu mulai memakai songket sarung dengan baju kurung. Di masa kini songket adalah pilihan populer untuk pakaian perkawinan Melayu dan sering diberikan oleh pengantin laki-laki kepada pengantin wanita sebagai salah satu hadiah perkawinan.

Ditilik dari harganya, songket tidak dimaksudkan hanya untuk masyarakat berada saja karena harganya yang bervariasi dari yang biasa dan terbilang murah, hingga yang eksklusif dengan harga yang sangat tinggi.

2. BUSANA TRADISIONAL

Busana ini sebenarnya berasal dari masa-masa kesultanan Palembang sekitar abad ke 16 sampai pertengahan abad ke 19, dan dikenakan oleh golongan keturunan raja-raja yang disebut Priyai. Pakaian kebesaran untuk laki-laki dilengkapi dengan tanjak (tutup kepala) yang terbuat dari kain batik atau kain tenunan. Tanjak dibedakan atas tanjak kepudang, tanjak meler dan tanjak bela mumbang. Semuanya terbuat dari kain songket (kain tenunan tradisional) Palembang.

Baju yang dikenakan disebut kebaya pendek, atau bisa juga mengenakan kebaya landoong atau kelemkari yaitu kebaya panjang hingga di bawah lutut. Baju ini dibuat dari kain yang ditenun dan disulam dengan benang emas maupun benang biasa yang berwarna, atau dapat juga dicap dengan cairan emas perada (diperadan). Pada bagian dalam dikenakan penutup dada yang disebut kutang, terbuat dari kain yang ditenun, disulam, maupun diperadan. Tutup dada biasanya diberi hiasan permata.

Pakaian bagian bawah berupa celana panjang yang dinamakan celano belabas, yang terbuat dari kain yang ditenun. Mulai dari bagian bawah lutut sampai ke arah mata kaki disulam (diangkeen) dengan benang emas. Ada pula yang disulam dari bagian pinggul sampai ke mata kaki dengan motif lajur. Jenis celana yang lain disebut dengan celano lok cuan (celana pangsi; celana yang panjangnya sebatas lutut). Jenis celana ini tidak disulam dengan benang emas, dan ukuran celananya lebih lebar.

Setelah celana panjang dikenakan selembar kain yang disebut sewet bumpak. Kain ini dibuat dengan cara ditenun, ditaburi dengan bunga-bunga kecil dari benang emas, serta diberi tumpal benang emas. Kemudian pada bagian bawah selebar lebih kurang 10 atau 12 cm diberi pinggiran benang emas.

Busana ini dilengkapi dengan ikat pinggang yang disebut badong, terbuat dari suasa, perak, atau tembaga yang dilapisi emas. Pada bagian luarnya ditatah dengan abjad atau angka-angka Arab, yang diyakini dapat membawa berkah dan keselamatan bagi pemakainya. Badong yang terkenal disebut badong jadam, yang dianggap jenis yang paling istimewa karena memiliki khasiat ampuh. Badong ini terbuat dari campuran berbagai bahan logam.

Pelengkap busana yang lain adalah keris. Sarung keris (pendok) terbuat dari emas, suasa, atau perak dengan tatahan bermotif bunga. Ada juga yang diberi batu permata, tergantung pada taraf ekonomi pemakainya. Keris ini diselipkan pada lambung sebelah kiri, dan sarungnya tidak kelihatan karena ditutupi kain atau celana. Hanya seorang raja yang boleh memakai keris dengan gagangnya menghadap keluar. Busana ini juga dilengkapi dengan alas kaki jenis terompah.

3. PAKAIAN SEHARI-HARI

Pakaian orang laki-laki (wong lanang) terdiri dari kain (sewet), baju (kelambi), tutup kepala dengan jenisnya disebut tanjak, iket-iket atau kopiah (kopca), dan memakai alas kaki yang disebut gamparan atau terompah. Selanjutnya busana ini dilengkapi dengan sejenis senjata tajam, seperti keris, tumbak lado, badek, rambi ayam, atau jembio. Kain (sewet) biasanya ditenun sendiri atau dibeli dari pulau Jawa. Demikian juga baju (kelambi) biasa ditenun sendiri, atau membeli bahan baju dari Jawa, Cina, India, atau Eropa. Laki-laki Palembang gemar memakai baju jenis bela booloo, yang dibedakan atas tiga jenis yaitu: memakai kancing (bemben), memakai kantong biasa, dan memakai kantong terawangan.

Tutup kepala juga dibuat sendiri dengan cara ditenun, dan diberi angkinan dari kain batik yang didatangkan dari Gresik, Lasem, Indramayu, atau Betawi. Saat ini sudah jarang orang yang memakai tanjak, sebagai gantinya dikenakan kopiah sebagai penutup kepala. Untuk alas kaki yang berbentuk gamparan terbuat dari potongan kayu yang bermutu, seperti kayu meranti payo atau ngerawan.

Sebagai pakaian sehari-hari, orang laki-laki umumnya mengenakan kain (sewet sempol) dan baju beta booloo. Ada juga yang memakai seluar (celana) panjang atau celana model pangsi (lok cuan). Pada umumnya mereka mengenakan tutup kepala, baik waktu bepergian maupun ketika sedang di rumah, karena mereka menganggap tutup kepala lebih penting dari baju. Jenis tutup kepala yang biasa dikenakan adalah kopiah (kopca). Pakaian untuk di rumah tidak dilengkapi dengan alas kaki.

Pada saat akan bepergian, mereka selalu mengenakan pakaian yang terbaik dan rapi. Mereka biasa mengenakan kain pelekat, yang halus dari jenis tajung Bugis atau gebeng Palembang. Baju yang dikenakan berupa jas tutup terbuat dari bahan linen, kamhar, atau las. Bagi orang kaya tidak ketinggalan jam kantong dengan medalion. Pakaian ini dilengkapi dengan ikat pinggang (cak pinggang) terbuat dari kulit. Sebagai alas kaki adalah terompah atau sepatu tanpa tali. Busana untuk bepergian tersebut juga lazim dikenakan kaum laki-laki pada kegiatan-kegiatan perayaan.

Busana untuk perempuan (wong betino) terdiri dari kain (sewet saroong), umumnya batik Betawi atau yang dinamakan sewet mascot. Baju yang dikenakan disebut baju kooroong (kurung) terbuat dari kain belacu. Baju kurung ini lazim dikenakan oleh perempuan yang sudah tua, sedangkan perempuan muda memakai baju kebaya. Mereka juga mengenakan selendang (kemben), yang dikenakan pada kepala, bahu, dada, dan dahi. Untuk ikat pinggang dikenakan sejenis pending yang disebut badong atau angkin. Tetapi saat ini jenis ikat pinggang tersebut sudah jarang dikenakan, sebagai penggantinya dipakai setagen (kain kecil yang sangat panjang yang dikenakan melilit perut, berasal dari Jawa). Sedangkan sebagai alas kaki dikenakan terompah dengan sulaman klingkan bagi perempuan yang sudah tua, dan untuk orang muda mengenakan cenela atau selop tungkak tinggi (sandal bertumit tinggi). Wanita yang sudah menikah atau yang sudah tua lazim memakai selendang sebagai tutup kepala, yang disebut koodoong (kerudung) kajang atau koodoong trendak. Namun sejak tahun 1942 koodoong kajang sudah tidak pernah dipakai lagi, dan mengalami perubahan fungsi sebagai tudung saji atau tutup makanan. Selendang tersebut biasanya diberi rumbai-rumbai (rumbe-rumbe).

Pada masa lalu, semua bahan pembuatan busana tersebut didatangkan dari Jawa, Cina, India, dan Singapura. Saat ini orang Palembang sudah dapat membuat sendiri busana mereka dengan bahan-bahan yang diperoleh dari alam sekitarnya.

Sebagai pakaian sehari-hari, kaum perempuan lazim mengenakan kain (tenunan tradisional Palembang atau kain batik dari Jawa), baju kurung (kooroong) dengan panjang sebatas lutut, dan tutup kepala (tengkoolook). Rambut disisir dengan rapi dan diberi minyak lengo (minyak kelapa yang dicampur dengan daun pandan yang diiris halus, serta dicampur dengan bunga-bunga yang harum). Kemudian rambut ditata dengan sanggul, yang disebut geloongan coompook atau geloongan temakoo setebek.

Pada saat menghadiri suatu upacara adat, pakaian yang lazim dikenakan terdiri atas kain sarung (sewet saroong) batik yang halus, baju kurung yang panjangnya sampai lutut atau kebaya yang tepinya diberi renda hingga menutup dada (untuk remaja putri), rambut disanggul, dan terompah atau selop. Busana ini dilengkapi dengan sehelai selendang besar yang dipakai dengan rapi menutupi kepala sampai bahu, sehingga yang nampak hanya mata dan hidung pemakainya. Sebagai perhiasan pelengkap busana ini adalah kalung emas dengan liontin permata berlian atau intan, rangkaian peniti terbuat dari emas atau perak, gelang (jenis gelang yang terkenal disebut gelang kepalak ulo), serta gelang kaki (yang terkenal adalah gelang sekel kepalak nago).

Untuk menghadiri suatu upacara adat yang disebut penganten mungga, busana yang dikenakan kaum wanita adalah serba songket. Busana ini hanya boleh dikenakan oleh perempuan yang sudah bersuami. Songket ini merupakan pemberian suami ketika mereka menikah sebagai salah satu mas kawin. Dari mutu kain songket tersebut dapat terlihat kekayaan atau kemampuan keluarga yang memilikinya. Semakin halus songket yang dimilikinya, menandakan kekayaan keluarga yang bersangkutan. Sebagai kelengkapan busana serba songket ini sama dengan perhiasan yang lazim dikenakan untuk menghadiri upacara-upacara adat lainnya.

Sumber : id.wikipedia.org, Sri Murni Biranul Anas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s