Ketika Koruptor Menjadi Pesohor

Posted: 10 Oktober 2013 in Catatan Politik

Oleh: Irwan P. Ratu Bangsawan

 

…. ada hal menarik yang terasa menyesakkan dada yaitu ada semacam gejala yang menganggap koruptor bukannya penjahat melainkan orang yang terjebak dalam sistem dan menjadi korban dari sistem tersebut. Mereka yang berpredikat sebagai koruptor bahkan dengan langkah ringan dapat kembali menjalani kehidupan sosialnya tanpa sedikit pun merasa bersalah….

 

AKIL MOCHTARKorupsi dari hari ke hari bukannya semakin terkikis, malah sebaliknya, korupsi semakin menjadi dan berkembang biak. Kasus tertangkap tangannya Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) M. Akil Mochtar adalah salah satu contohnya. Tertangkapnya sang ketua menjadikan catatan buram bagi penegakan hukum di negeri ini..

Saat ini ada hal menarik yang terasa menyesakkan dada yaitu ada semacam gejala yang menganggap koruptor bukannya penjahat melainkan orang yang terjebak dalam sistem dan menjadi korban dari sistem tersebut. Mereka yang berpredikat sebagai koruptor bahkan dengan langkah ringan dapat kembali menjalani kehidupan sosialnya tanpa sedikit pun merasa bersalah. Bahkan ada kasus seorang koruptor yang baru saja menyelesaikan masa hukumannya ketika keluar dari pintu penjara langsung disambut dengan meriah selayaknya seorang pahlawan yang baru kembali dari medan perang. Sang koruptor itu pun akhirnya bagai seorang pesohor (selebrity) yang selalu dikejar-kejar wartawan untuk dikutip pendapat dan ide-idenya.

Masyarakat yang Sakit

Fenomena di atas merupakan bukti awal yang cukup menarik untuk dikaji dalam kaitannya dengan dugaan bahwa sesungguhnya masyarakat kita sedang sakit. Masyarakat seperti kehilangan acuan untuk menilai sebuah kasus korupsi. Sebagai masyarakat yang faternalistik, kita terbiasa menjadikan pemimpin dan pejabat sebagai acuan bertindak. Jadi, ketika pemimpin mereka berbuat suatu tindakan yang menyimpang, tanpa sadar masyarakat menerjemahkannya sebagai sesuatu yang wajar dan bisa dimaklumi. Sebagai contoh, kasus korupsi yang dilakukan Akil Mochtar di atas dimaknai sebagai akibat wajar dari besarnya wewenang dan kekuasaan yang dimiliki sang ketua MK.

Di sisi lain, para koruptor seperti telah putus urat malunya. Sebelum KPK menerapkan baju tahanan bagi para tersangka, mereka bahkan selalu berpakaian parlente, wajah berbinar-binar, dan tangan yang selalu melambai mengarah ke sorotan lampu kamera. Tak ada sedikit pun guratan rasa malu di wajah mereka. Persoalan urat malu adalah persoalan integritas diri kita sebagai manusia, apalagi memegang tanggung jawab besar sebagai pejabat yang memiliki tugas memerjuangkan kesejahteraan rakyat. Oleh sebab itu, semestinya para pejabat tidak bermain-main dengan persoalan urat malu, karena itu menyangkut integritas diri yang di dalamnya ada beban kepercayaan rakyat.

Putusnya urat malu tersebut sebenarnya bermula dari putusnya urat takut mereka saat masih menjadi pejabat. Acaman hukuman yang lama dan pemiskinan dengan menyita harta hasil korupsi tidak dipedulikan. Hal ini bisa terjadi sebagai akibat tumbuh suburnya keserakahan alias ketamakan di kalangan sebagian pejabat.

Masyarakat kita adalah masyarakat yang mudah lupa bahwa seseorang pernah melakukan kejahatan kemanusiaan semacam korupsi. Karakter seperti ini juga merupakan salah satu ciri dari masyarakat yang sakit. Menurut Suara Karya Online masyarakat yang sakit adalah masyarakat yang kehilangan jati diri. Masyarakat yang menghancurkan diri sendiri. Masyarakat tidak punya daya. Masyarakat yang tidak memiliki pegangan. Masyarakat yang tidak menyimpan rujukan. Masyarakat yang tidak mendapat pijakan. Masyarakat yang teralienasi.

Gejala tersebut merupakan refleksi rusaknya tatanan sosial. Masyarakat kehilangan nilai-nilai luhur. Masyarakat juga sulit menemukan keteladanan. Nilai-nilai yang berkembang tidak lagi mengagungkan keluhuran. Masyarakat tidak berdaya oleh kemunafikan dan kebobrokan. Entah sebagai korban maupun sebagai pelaku.

Kenyataan itu sekaligus merefleksikan kegagalan kepemimpinan di berbagai tingkatan maupun di berbagai bidang kehidupan. Figur-figur yang melakukan fungsi-fungsi kepemimpinan gagal memaknai arti pemimpin. Sikap-tindak mereka sebagai pemimpin sedikit sekali membawa kemaslahatan bagi kehidupan orang banyak, bahkan buat diri mereka sendiri.

Jelas, fenomena masyarakat sakit ini tak boleh dibiarkan terus berkembang. Jika terus meluas, fenomena tersebut sangat berbahaya bagi kehidupan secara keseluruhan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Oleh sebab itu, langkah-langkah perbaikan wajib segera dilakukan dalam berbagai aspek: sosial, politik, ekonomi, hukum, dan lain-lain. Intinya, moralitas harus ditegakkan. Nilai-nilai luhur harus kembali diagungkan.

Untuk itu, keteladanan menjadi kebutuhan mendesak. Terutama di kalangan pemimpin: keteladanan harus menjadi falsafah hidup atau sekaligus menjadi semacam gaya hidup.

Dalam konteks itu, rekrutmen kepemimpinan jangan lagi lebih berorientasi kekuasaan. Rekutmen kepemimpinan sepatutnya lebih merupakan ajang menuju pengabdian. Tanpa semangat seperti itu, masyarakat niscaya semakin sakit

Gerakan Antimasyarakat Sakit

Saat ini sudah saatnya dipikirkan untuk membentuk gerakan sosial antimasyarakat sakit. Masyarakat saling membahu untuk mengedepankan kembali nilai-nilai luhur untuk menyembuhkan berbagai macam sakit masyarakat seperti korupsi dan perilaku menyimpang lainnya. Gerakan ini harus menyasar ke semua komponen masyarakat, mulai dari orangtua, anak, guru, pejabat, anggota dewan, hakim, jaksa, sampai advokat.

Sama dengan tubuh, masyarakat yang sakit juga harus disembuhkan. Bila tubuh ingin sehat dan kuat, maka tubuh perlu nutrisi yang memadai yang akan membentuk sistem kekebalan tubuh. Demikian juga dengan masyarakat. Menurut Fika M. Komara agar sehat, masyarakat perlu nutrisi yang berupa 1) pemikiran-pemikiran yang cerdas untuk membangun fondasi peradaban masyarakat dan menjadi identitas yang jelas bagi warna masyarakat, 2) perasaan kolektif masyarakat yang berperan sebagai kontrol sosial dan sistem kekebalan karena rasa suka dan benci masyarakat akan menentukan sikap kolektif yang benar terhadap berbagai peristiwa dalam kehidupan, dan 3) bagaimana kualitas sistem kehidupan yang ada mampu mengatur berbagai interaksi sosial tersebut sehingga menyelesaikan berbagai masalah dengan tuntas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s