Kebiasaan Keliru Dalam Memperlakukan Tumpeng

Posted: 15 Maret 2016 in Catatan Budaya, Seni Budaya

Oleh: INDRA KETAREN
Presiden Gastronomi Indonesia

image

Anda pasti pernah mendengar tumpeng yang merupakan makanan khas yang senantiasa hadir dalam kesempatan-kesempatan istimewa (selamatan). Makanan ini lebih banyak dikenal dan disajikan masyarakat di kepulauan Jawa. Bagi masyarakat di luar kepulauan Jawa atau non-Jawa, pada umumnya mereka pernah mendengar tetapi tidak mengetahui cara penggunaannya karena bukan budaya lokal setempat..

Bagi orang Jawa, tumpeng sarat dengan simbolisasi spiritual yang memiliki kekuatan supranatural mengenai ajaran makna hidup berdasarkan pranata yang berlaku. Tumpeng adalah hidangan paripurna (penuh & lengkap) yang merupakan warisan tradisi nenek moyang yang sangat tinggi nilai historisnya dan mempunyai takrif yang sakral sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan YME.

Masyarakat Jawa percaya bahwa tumpeng merupakan peribadatan untuk mensyukuri nikmat Tuhan YME dan para Dewa – Dewi atau atau arwah leluhur nenek moyang, dengan cara memohon perlindungan dan keselamatan dalam memperingati peristiwa-peristiwa penting serta untuk menyampaikan keinginan tertentu agar terkabul. Tempat dimana Gusti Allah dan para Hyang (Dewa – Dewi) atau atau arwah leluhur nenek moyang bersemayam diwujudkan dalam rumah daun pisang yang menutupi puncak segi tiga tumpeng.

Masyarakat Jawa berkeyakinan pada suatu kekuatan yang melebihi segala kekuatan yang dikenal dengan kasekten, arwah atau ruh leluhur, makhluk-makhluk halus seperti memedi, lelembut, thuyul, dhemit serta jin lain yang menempati alam sekitar tempat tinggal mereka. Menurut kepercayaan, masing-masing makhluk halus tersebut dapat mendatangkan kesuksesan, kebahagiaan, ketentraman, keselamatan, tetapi sebaliknya, dapat pula menimbulkan gangguan pikiran, gangguan kesehatan, bahkan kematian.

Apabila seseorang ingin hidup tanpa menderita gangguan itu, ia harus berbuat sesuatu untuk mempengaruhi alam semesta dengan berprihatin, berpuasa, berpantang melakukan perbuatan serta makan makanan tertentu, berselamatan, dan bersesaji. Salah satu jenis selamatan yang masih dilaksanakan sampai saat ini adalah melalui media pengantar komunikasi antara sang pemohon dengan unsur yang dituju, yakni melalui tumpeng.

Dengan demikian tumpeng merupakan sarana ekspresi sosial dan ritual budaya masyarakat Jawa yang mengandung banyak makna. Oleh karena itu lazim tumpeng di-aksioma-kan sebagai sarana “media komunikasi spiritual masyarakat Jawa kepada Gusti Allah dan para Hyang atau atau arwah leluhur nenek moyang yang menguasai Alam Semesta”

Namun banyak orang awam sampai hari ini, terutama yang ada di kepulauan Jawa, tidak memahami makna ritus sebenarnya dari tumpeng. Umumnya mereka hanya melihat dari segi bentuk yang disajikan untuk kebiasaan seremoni selamatan tanpa mengetahui asal muasal tradisi sejarahnya.

Sebagai orang non Jawa, izinkan saya mencoba untuk memberi pelurusan terhadap amanah para leluhur terhadap sajian tumpeng. Saya sampaikan hal ini sebagai seorang gastronom yang menekuni dunia gastronomi makanan kepulauan Nusantara Indonesia yang selalu melihat sisi originalitas sejarah, budaya, lanskap lingkungan dan metoda memasaknya.

Ada dua hal yang selama puluhan tahun ini berkembang sedemikian rupa dalam masyarakat kita yang kurang layak dalam memperlakukan tumpeng, yakni :

1. Potong Tumpeng
Seperti sudah menjadi kebiasaan dalam masyarakat kita saat ini – setelah menyampaikan niat hajatan dan berdoa – orang selalunya memotong melintang tumpeng dan melepas rumah daun pisang yang menutupi puncak segi tiga kerucut.

Perlu diingat bahwa tumpeng “TIDAK DIPOTONG” melintang dan rumah daun pisang “TIDAK DILEPAS” dari puncak kerucut-nya.

Dalam kebiasaan masyarakat Jawa kuno, nasi tumpeng di “KERUK” sisi sampingnya, dimulai di bagian yang paling bawah sampai naik ke atas. Kalau tumpeng kerucut dipotong & rumah daun pisang dilepas, artinya simbol suci yang mau dijalin sirna dari ikatan bathin dan komunikasi spiritual terlepas dari Gusti Allah dan para Hyang (Dewa – Dewi), atau arwah leluhur nenek moyang.

Pada saat disantap bersamapun, tumpeng tetap dikeruk dari samping tanpa menyentuh bagian segitiga puncak dan melepas daun pisangnya. Menurut adat kepercayaan, pada saat kerukan semakin banyak dilakukan, di saat tertentu rumah daun pisang akan jatuh. Ini pertanda jawaban dari Penguasa Alam Semesta, bahwa niat hajatan dan doa selamatan dikabulkan dan diberkahi. Kemudian ambil wadah anyaman yang dilapis daun pisang dan letakan segitiga puncak kerucut tumpeng yang ada daun pisangnya. Letakkan wadah anyaman itu di suatu posisi (tempat) bangunan yang dianggap layak sebagai lambang presentasi kepada Penguasa Alam Semesta.

2. Penghormatan Budaya
Melihat perkembangan kuliner sedemikian rupa pesatnya sejak tahun 1998, disadari bicara kuliner adalah rasio soal gaya kehidupan masyarakat kosmopolitan yang banyak ditekankan kepada wisata kuliner. Masyarakat dan organisasi kuliner dan non kuliner begitu banyaknya namun “kosong” dalam memahami pesan-pesan dari masakan makanan bangsa ini.

Akhir-akhir ini, banyak masyarakat dan organisasi kuliner dan non kuliner berkreasi terhadap resepi-resepi masakan makanan bangsa Indonesia dengan segala gaya dan stylist-nya sehingga ada dari masakan makanan yang ritual disamakan perlakuannya seperti masakan makanan non ritual. Kepentingannya untuk daya tarik, komersialisasi dan panggung ketenaran.

Contoh sederhana dalam sajian makanan tumpeng. Foto-foto bertebaran di segala dunia maya dan malah ada yang dipamerkan sebagai produk kegiatan pelatihan memasak suatu organisasi non kuliner yang cukup terkenal yang didampingi seorang chef senior. Mereka memperlihatkan tumpeng disajikan cara pembuatan tidak mengikuti pakem yang sudah ada. Warnanya dibuat “pink” yang di sisi atas kerucut rumah daun pisang ditambahkan hiasan mata dan bibir dan hiasan-hiasan lainnya yang kurang layak dilihat.

Dalam kesempatan ini saya perlu mengingatkan tumpeng merupakan budaya ritual sakral masyarakat Jawa yang mempunyai nilai intangible baik itu mengenai falsafah, filosofis, sejarah maupun perilaku budaya yang menjadi simbol, ritual, adat, dan kearifan lokal masyarakat Jawa serta pembentuk karakter, jati diri serta ciri identitas mereka.

Sudah saatnya kita kembali kepada habitat untuk menghormati nilai-nilai budaya makanan ritual masyarakat dari bangsa Indonesia. Kapan lagi kalau bukan kita sendiri yang melakukannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s