ADAT TIMBANG KEPALA KEBO

Posted: 10 Mei 2016 in Berita Parsenpor, Pariwisata dan Promosi, Seni Budaya, Uncategorized

…. pengantin yang diniatkan orang tuanya untuk ditimbang, lebih dulu naik untuk ditimbang. Kemudian dia diayun oleh orang tuanya dari belakang, sebagai simbol anak harus menyadari betapa orang tua….

 

TIMBANGAN KEPALA KEBO

Timbangan kepala kebo

Adat Timbang Kepala Kebo (Kerbau) pada dasarnya dikenal di Pangkalan Balai Ibukota Kabupaten Banyuasin dan daerah-daerah sekitarnya. Adat ini sudah bertahan sejak berpuluh-puluh tahun bahkan ratusantahun lalu dari nenek moyang penduduk asli Banyuasin, yaitu suatu adat menimbang kepala kerbau yang sudah disembelih dengan pasangan pengantin dalam sebuah acara ada yang digelar dit kampung-kampung.

Adat ini dilakukan karena orang tua pengantin dahulu ketika anaknya masih kecil mempunyai nazar (janji kepada Allah yang wajib dibayar) atau dalam bahasa Banyuasin disebut Sangi. Sangi biasanya diucapkan pada saat anaknya masih kecil. Orang tuanya berjanji akan menyembelih kerbau (kebo) dan kepalanya akan ditimbang dengan anaknya pada saat nanti si anak sudah mendapatkan jodoh. Sangi itu muncul dari hati biasanya karena orang tua sulit mendapatkan anak. Saat belum punya anak itulah dia bermohon pada Allah Yang Maha Kuasa, jika nanti dia dikarunia keturunan akan melakukan adat Timbang Kepala Kebo. Niat penyembelihan hewan untuk membayar Sangi ini bisa saja dengan hewan yang lain seperti kepala kambing atau kepala sapi, tetapi nama adat ini tetap disebut Timbang Kepala Kebo.

PENGANTIN PRIA DITIMBANG

Pengantin pria ditimbang

Niat sangi dibayar jika anaknya tumbuh besar menjadi anak yang soleh, pintar mengaji dan sekolah sampai kuliah serta sukses mendapat pekerjaan yang baik. Sangi dibayar pada saat anak tadi akan menikah dengan janji dilakukan upacara TImbang Kepala Kebo. Acaranya dilaksanakan pada saat acara perayaan pernikahan dengan acara adat tersendiri. Karena ada Sangi seperti itu, maka orang tua membayar nazarnya tersebut. Para orang tua di Kabupaten Banyuasin sekarang semakin senang melakukan adat istiadat ini sehingga adat Timbang Palak Kebo terus lestari.

 Perlengkapan yang disiapkan untuk pelaksanaan Timbang Kepala Kerbau ini adalah:

  1. Timbangan, dahulu terbuat dari kayu sekarang dari besi.
  2. Kepala kerbau, yang sudah disembelih sebelum acara timbang kepala kerbau. Kepala kerbau kadang diganti dengan kepala kambing atau kepala sapi karena niat orang tuanya ingin menimbang anaknya dengan kepala kambing atau sapi, tetapi acara adatnya tetap disebut Timbang Kepala Kerbau.
  3. Beras kunyit atau beras yang sudah direndam dengan kunyit diparut.
  4. Kain panjang tujuh helai untuk dilewati pengantin saat menuju tempat acara adat Timbang Kepala Kerbau.

 Berbagai macam hasil pertanian yang digantungkan dekat acara adat ini seperti rempah- rempah, padi, kelapa tumbuh, kunyit, serai, nenas, ketupat, dan lainlainnya yang ditampilkan di atas timbangan sebagai simbol filosofi doa orang tua agar anaknya yang saat itu jadi pengantin ini akan memperoleh rezeki yang banyak dan halalal toyiban (yang halal dan baik).

PENGANTIN WANITA DITIMBANG

Pengantin wanita ditimbang

Dahulu, kepala kerbau, yang digunakan untuk Timbangan, setelah kerbau disembelih, langsung diadakan acara timbangan dengan calon pengantin pada hari itu juga. Namun sekarang karena kepala kerbau bisa disimpan dalam box besar dan diberi berpuluh-puluh es batu bahkan sampai ratusan kilogram es batu, maka ucapara adat ini bias dilakukan beberapa hari kemudian setelah dilakukan penyembelihan kerbau, sapi atau kambing yang dinazarkan. Umumnya pelaksanaannya disamakan dengan acara resepsi (perayaan) pernikahan dengan tujuan daging kerbau yang disembelih bisa dimasak untuk disantap oleh undangan perayaan resepsi pernikahan.

Pengantin dalam acara adat ini betul-betul ditimbang dengan kepala kerbau dengan timbangan yang tersedia atau dibuat oleh sesepuh adat setempat. Tidak ada yang mengetahui siapa pertama kali atau sejak kapan kebiasaan ini diterapkan di Pangkalan Balai, Kabupaten Banyuasin, namun adat ini terus dilestarikan masyarakat dan diperkirakan sudah berlangsung dalam kehidupan masyarakat Banyuasin puluhan bahkan ratusan tahun silam.

Para petugas yang terlibat dalam pelaksanaan upacara adat Timbang Palak Kebo yang dipandu oleh para pemangku dan sesepuh adat Kabupaten Banyuasin ini adalah:

  1. Orang tua pengantin.
  2. Pengantin yang dibayar nazar timbang kepala kerbau.
  3. Ibu-ibu bertugas menghamburkan beras kunyit ke atas kepala pengantin yaitu sebelah kiri 7 orang dan sebelah kanan 7 orang saat pengantin berjalan di atas kain tujuh helai.
  4. Ulama yang akan membacakan doa.
  5. Pembaca syair dan pantun yang langsung menjadi pembawa acara adat tersebut.
  6. Tentunya disaksikan, sanak keluarga, para undangan serta masyarakat Banyuasin pada umumnya.

Tata laksana Timbang Palak Kebo biasanya dimasukkan dalam acara resepsi pernikahan setelah akad nikah (ijab kabul) selesai. Setelah kepala kerbau, timbangan, beras kunyit dan petugas pelaksana adat istiadat ini siap, pengantin yang diniatkan bersama pasangannya digiring orang tuanya menuju tempat prosesi adat upacara Timbang Kepala Kebo. Tempat upacara adat Timbang  Kepala Kebo ini kalau dulu wajib dilakukan di Balai Panjang, di Pangkalan Balai (sejenis balai pertemuan). Saat digiring orang tuanya menuju tempat upacara adat ini petugas pembaca syair membacakan syair pantun seperti ini:

pegi keutaaan ngambik la buluuuhh
buluh dibuuuat bedengkar sanjiii
penganten di timbaaaang kepala kebooo
ebak embiknyo mbeyer laa sangiii.

 Sebelum pengantin sampai di ayunan untuk ditimbang, penganten disuruh berjalan menuju timbangan melewati tujuh helai kain yang di pasang di lantai. Saat itu pembawa syair membacakan dua kali Kalimasyahadat dan mendoakan agar anak yang ditimbang kepala kerbau ini berakhlak mulia, berperilaku baik dan menjadi anak yang soleh. Contoh syairnya begini:

 La illa ha illaloooh, Muhammad da rosulullloh
beperahu ke Tanjung Putuuus,
ngambik la kumpai makanan sapi,
anak kami paling laa baguuuus,
hari ini mbayar laa sangiii,
Lai illa ha illalooh Muhammad da rosululloh

(seluruh hadirin ikuti syair ini)

 Sesampainya dekat timbangan, pengantin yang diniatkan orang tuanya untuk ditimbang, lebih dulu naik untuk ditimbang. Kemudian dia diayun oleh orang tuanya dari belakang, sebagai simbol anak harus menyadari betapa orang tua sangat sayang kepadanya sejak kecil hingga dihantarkan sampai ke pelaminan atau menikah. Ia dituntut tetap patuh dan tidak melawan kepada orang tua, menyayangi serta selalu mendoakan orang tuameskipun nanti sudah meninggal dunia. Saat diayun orang tuanya dengan timbangan kepala kerbau itu pembaca syair juga membacakan pantun yang berbunyi;

pegi ke kalangan hari rebu,
rebu memberi makanan burung serindit
penganten timbang kepala kebo
berhambur beras kunyit

(sesepuh adat yang dipercaya lalu menghamburkan beras kunyit ke atas kepala pengantin)

Kemudian dibacakan pantun lagi yang berbunyi:
beras makanan burung serindit
dimakan cacing di tanah
pengantin sudah ditebar beras kunyit

pemandu adat membaca doa (langsung pemangku adat membacakan doa biasanya sampai dua kali doa) untuk pengantin. Setelah itu anak yang ditimbang kepala kebo (bersama suami/istrinya) harus sujud kepada kedua orang tuanya.

Kemudian kedua orang tua disuruh duduk berjejer, lalu pengantin wajib menyalami kepada kedua orang tua dan mertuanya, sambil menyampaikan ucapan terima kasih telah dibesarkan dan diberi kasih sayang dan selalu diperhatikan oleh orang tua. Suasana seperti ini biasanya diwarnai isak tangis orang tua maupun pengantin bahkan undangan yang hadir juga ikut terharu menangis).

Orang tua kemudian menggiring pengantin yang melewati (memijak) kain tujuh helai sampai ke panggung pelaminan. Sepanjang jalan melewati kain tujuh helai itu sebagai tanda telah selesai melakukan prosesi Timbang Kepala Kebo lantunan syair-syair nasihat lainnya dibacakan terus oleh pembawa acara baru kemudian orang tua menyerahkan pengantin kepada panitia resepsi pernikahan di panggung pelaminan guna diadakan perayaan acara resepsi pernikahan layaknya acara nasional pada umumnya (***)

Tulisan ini telah dimuat dalam buku Sejarah, Khasanah Budaya, dan Profil Potensi Kabupaten Banyuasin. (Penulis: Ajmal Rokian, dkk) diterbitkan oleh Dinas Pariwisata, Seni Budaya, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banyuasin (2014)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s