SENDRA TARI AKAR SEREKAN

Posted: 10 Mei 2016 in Berita Parsenpor, Pariwisata dan Promosi, Seni Budaya

…. mereka menyadap karet dan mengambil akar serekan untuk dijadikan alat rumah tangga seperti bakul, keruntung dan tombak. Mereka pergi….

SENDRA TARI AKAR SEREKAN

Sendratari Akar Serekan

KONON cerita pada zaman dahulu kala, di Desa Terlangu, Kecamatan Banyuasin III, Kabupaten Banyuasin hidup delapan bersaudara. Mereka terdiri dari tujuh saudara perempuan dan seorang laki-laki. Mereka tinggal bersama neneknya bernama Nenek Meruya. Delapan bersaudara ini hidup dengan aman dan nyaman bersama nenek. Mereka selalu bersama-sama dalam melakukan segala sesuatu baik pada saat bermain, bekerja maupun bersenda gurau. Ketujuh saudara perempuan itu bernama Putri Seru, Putri Sungkai, Putri Pulai, Putri Dadap, Putri Sekemput, Putri Brotowali, Putri Serekan. Mereka bertujuh menyayangi adik laki-laki satu-satunya yang biasa dipanggil dengan nama kesayangannya Dek Nang yang berarti adik lanang atau adik laki-laki.

Dalam kehidupan sehari-hari, mereka menyadap karet dan mengambil akar serekan untuk dijadikan alat rumah tangga seperti bakul, keruntung dan tombak. Mereka pergi ke hutan ketika pagi dan kembali saat menjelang siang, begitulah seterusnya setiap hari kehidupannya. Entah apa yang terjadi pada Putri Serekan dan apa yang sedang memasuki pikirannya, saudara pengais bungsu itu tiba-tiba mempunyai perilaku buruk. Ia sering memusuhi saudara-saudaranya sehingga keenam saudaranya diusir ke tengah hutan dan neneknya tidak bisa berbuat apa-apa. Nenek pun tidak sanggup lagi menghadapi sifat buruk Putri Serekan itu. Ia hanya bisa berdoa agar cucunya itu segera sadar. Konon cerita keenam putri itu menjadi akar-akar liar di dalam hutan.

Kini hanya tinggal mereka bertiga yaitu Putri Serekan, Dek Nang dan Nenek Meruya. Pada suatu sore Putri Serekan mengajak Dek Nang ke dalam hutan untuk mencari binatang buruan sambil bermain dengan Dek Nang. Setibanya di dalam hutan tiba-tiba Putri Serekan mendorong Dek Nang ke dalam semak-semak belukar sesaat kemudian Dek Nang terseret ke sana kemari dan karena terlilit akar akhirnya hilang dalam semak belukar. Dek Nang masih hidup dan bertapa. Dalam pertapaannya ia berharap agar kakak perempuannya Putri Serekan itu segara sadar akan kelakuannya yang buruk dan segera mencarinya.Setelah sekian lama adiknya menghilang, ia tak tahan melihat kesedihan Nenek Meruya, Putri Serekan pun perlahan menyadari kesalahannya. Ia akhirnya memutuskan pergi ke hutan dan berniat mencari adiknya itu. Setelah lama berkeliling di tengah hutan bertemulah Putri Serekan dengan adiknya Dek Nang yang telah lama menghilang.

Dalam pandangan Putri Serekan dari kejauhan, penampilan Dek Nang dalam posisi sedang bertapa. Ia ragu untuk menegurnya, tapi Tuhan berkehendak lain, tiba-tiba datanglah angin puyuh yang sangat kuat sehingga Dek Nang terbawa angina dan tersangkut pada akar-akar liar di hutan. Putri Serekan tertegun menyaksikan kejadian itu. Ia berusaha ingin menyelamatkan adiknya tapi semuanya sudah terlambat. Adiknya yang tersangkut di akar liar itupun ikut berubah menjadi akar menyusul keenam puteri saudara lainnya yang telah lebih dulu menjadi akar. Tinggalah Putri Serekan dengan penyesalan yang teramat dalam akan keburukan dirinya itu. Dari kisah itulah maka akar tersebut dinamakan Akar Serekan hingga dijadikan sendra tari ini.

Tulisan ini telah dimuat dalam buku Sejarah, Khasanah Budaya, dan Profil Potensi Kabupaten Banyuasin. (Penulis: Ajmal Rokian, dkk) diterbitkan oleh Dinas Pariwisata, Seni Budaya, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banyuasin (2014)

.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s