ADAT DAN KESENIAN : DIGALI DAN MENGHILANG

Posted: 12 Mei 2016 in Berita Parsenpor, Catatan Budaya, Seni Budaya, Uncategorized

… menurut Hazairin sudah ada sejak puluhan tahun bahkan ratusan tahun lalu dari nenek moyang penduduk Banyuasin. Namun seiring dengan perubahan waktu, ada beberapa kesenian tradisional dan adat istiadat Banyuasin…

 

ilustrasi ningkukan

Acara ningkukan (ilustrasi)

Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Banyuasin, Hazairin H. Zabidi menyatakan setelah Kabupaten Banyuasin berdiri tahun 2002 dilakukan pula pembangunan bidang seni budaya dan adat istiadatnya. Seni budaya dan adat istiadat lama Kabupaten Banyuasin digali dan dibangun dalam rangka melestarikan seni budaya dan adat istiadat lokal.

Pelaksanaan pembangunan bidang seni budaya dan adat istiadat ini dilakukan di 19 kecamatan. Seluruh kecamatan dimotivasi menggalakkan kembali seni budaya masing-masing agar bisa digali, ditumbuhkembangkan dan dilestarikan untuk generasi muda mendatang. Hasil penggalian kesenian tradisional yang dilakukan beberapa tahun itu diperoleh kesimpulan bahwa kesenian tradisional Banyuasin umumnya berasal dari masyarakat di Kecamatan Banyuasin I, Kecamatan Banyuasin II dan Kecamatan Banyuasin III atau dari Marga Pangkalan Balai, Marga Rambutan, Marga Rantau Bayur dan Marga Sungsang. Sedangkan kesenian lain yang bersifat umum bercampur dengan budaya penduduk pendatang lainnya seperti Jawa di daerah Banyuasin berasal dari daerah Pulau Rimau Talang Kelapa, Mariana, Kecamatan Betung dan kecamatan lainnya.

Kesenian tradisional Banyuasin itu sendiri menurut Hazairin sudah ada sejak puluhan tahun bahkan ratusan tahun lalu dari nenek moyang penduduk Banyuasin. Namun seiring dengan perubahan waktu, ada beberapa kesenian tradisional dan adat istiadat Banyuasin yang berangsur sulit ditemukan karena para pelakunya sudah meninggal dunia atau lantaran transfer nilai-nilai seni budaya lama itu kepada generasi selanjutnya sedikit terhambat karena berbagai hal sehingga kesenian tradisional tersebut tidak terlestarikan kepada generasi berikutnya. Seni tari tradisional yang tumbuh sejak dahulu, tetapi sekarang sulit ditemukan akibat pelaku seninya sudah meninggal dunia seperti kesenian Krombongan sejenis musik gamelan kecil yang dilengkapi gong mengiringi tarian dan lagu-lagu tradisional. Musik yang dahulu sering mengiringi Tari Serampang Duabelas atau Tari Bujang Meranjak yang semua pemerannya juga sudah meninggal dunia ini sekarang jarang tampil karena tidak ada lagi pelakunya.

Seni tradisional Kromongan yang terdiri dari satu set gamelan kecil (16 kuningan/ ketawak) dan 2 gong besar biasanya ditampilkan pada saat menerima tamu-tamu agung yang datang ke Banyuasin. Kesenian tradisional ini mulai populer pada tahun 1930-1940-an. Penabuh ahlinya hanya Abu Hasan dan anak perempuannya, tetapi karena keduanya sudah meninggal dan meskipun sudah ada yang berusaha mempelajarinya tetapi tidak seindah yang dibawakan oleh keturunan Abu Hasan, maka seni tradisional ini sulit ditemukan lagi di Banyuasin. Padahal seni tradisional Kromongan selain untuk menyambut kedatangan tamu kehormatan, juga sering ditampilkan pada acara hiburan persedekahan pernikahan. Seni tradisional Kromongan pulalah yang ditampilkan ketika menyambut kedatangan Gubernur dan tamu-tamu kehormatan lainnya di Petaling pada tahun 1960 dan menyambut kedatangan tamu kenegaraan Adam Malik saat meresmikan Balai Penelitian Sembawa pada 18 April 1982.

Sejumlah kesenian tradisional lama di Banyuasin yang sekarang juga sulit terlihat karena pelakunya sudah meninggal dunia antara lain tari Tumbak Lado dari Kecamatan Rambutan, tari gadis berubah jadi cantik dari Sungai Rengit, tari Serampang Duabelas, tari Pencak Silat yang dahulu sering digunakan untuk mengarak calon pengantin pria atau menerima tamu, Sendra tari Dulmuluk, lantunan gitar tunggal lagu tradisional Senjang (mirip lagu batang hari Sembilan) dan Pantun bersahut Serambah yang dulu sering ditampilkan untuk mengiringi penyambutan tamu kehormatan.

Ada pula adat Banyuasin yang hilang tidak lagi dipakai oleh masyarakat. Dahulu ketika seorang ibu hamil saat akan melahirkan, sebuah tradisi biasanya di bawah rumah, dipasang lampu kaleng pada malam hari. Selama ibu itu belum melahirkan pada malam hari, maka lampu kaleng itu tidak boleh padam apinya, karena itu harus dijaga ada orang yang bergiliran tidak tidur sampai pagi menjaga agar api ini tidak padam. Sementara di rumah ada pula yang berjaga-jaga terhadap ibu hamil yang akan melahirkan bersama dukun beranak sambil membaca: solawat nabi, Alquran atau surah Yassin. Tradisi ini sebagai cara untuk mengusir gangguan-gangguan kuntilanak atau mahluk halus lainnya terhadap ibu yang akan melahirkan bayi.

Adat ningkuk yang dulu dilakukan oleh generasi muda juga hilang tidak lagi dilakukan oleh generasi muda di Banyuasin. Adat ningkuk, menurut Heri, Ketua Karang Taruna Desa Gelebak Dalam Kecamatan Rambutan Kabupaten Rambutan (1998-2004) suatu acara pertemuan atau hiburan muda-mudi di desa yang diakui oleh masyarakat secara sah. Acara ningkuk biasanya dilaksanakan pada saat ada acara pernikahan, acara khitanan, merayakan keberhasilan kampung setelah panen atau hendak menugal (menanam padi talang) di musim kemarau. Ningkuk sendiri diatur oleh panitia pemuda dan pemudi desa setempat. Acara ningkung diadakan malam hari. Setelah magrib, tim dari panitia, terdiri dari para pemuda dan seorang wanita setengah baya yang dinamakan mak/ibu yang dipercaya di desa, meminta izin kepada orang tua gadis bahwa malam ini anak gadis bapak dipinjam dulu untuk mengikuti ningkuk. Penjemputan biasanya diiringi dengan membawa strongking penerangan. Seluruh anak gadis diizinkan seperti ini kepada orang tuanya. Setelah acara selesai, semua anak gadis yang dijemput tadi dikembalikan oleh pemuda dan pemudi yang menjemput bersama mak/ibu kepercayaan tadi.

Acara ningkuk juga menjadi ajang bagi muda dan mudi mencari jodoh. Saat itulah mereka saling surat menyurati. Namun, untuk mengisi hiburan pertemuan muda dan mudi ini panitia biasanya menunjuk adanya hakim permainan. Hakim permainan ini yang mengatur hiburan dengan berbagai acara. Bagi yang terkena giliran pemuda atau pemudi yang terkena permainan, maka mereka dihukum oleh hakim acara. Hukuman bagi muda-mudi hiburan yang terkena permainan diantaranya dihukum harus membaca ayat Alquran seperti harus membaca Alfatiha dan lain sebagainya. Segi positifnya acara ningkuk ini membuat generasi muda desa harus selalu belajar agama, karena jika tidak bisa menjalankan hukuman dalam acara hiburan ningkuk sebagai pemuda atau pemudi menjadi malu. Hukuman lain bisa saja pemuda dan pemudi yang terkena hukum dalam permainan yang diatur panitia ningkuk agar membacakan pantun dan lain sebagainya.

Adat ningkuk menurut Heri berjalan lama namun sejak tahun 1990-an berangsur-angsur menghilang tidak dipakai lagi oleh generasi muda di Banyuasin, akibat tergerusnya kemajuan zaman karena teknologi penggunaan handphone membuat para muda-mudi sudah mudah saling berkomunikasi langsung satu sama lalu berjanji bertemu berdua di suatu tempat, atau tidak lagi bertemu melalui acara resmi ningkuk yang diakui secara sah oleh masyarakat desa.

Adat lama bujang gadis di Pangkalan Balai yang juga menghilang termakan zaman adalah adat Belerah. Adat ini dimana muda dan mudi berpacaran adat lama, yakni si bujang mendatangi rumah gadis (umumnya rumah dulu terbuat dari papan dan panggung). Si bujang berada di bawah rumah panggung, sedangkan si gadis berada di dalam rumah. Mereka bertemu dengan adat Belerah. Caranya si pria memberi kode bunyi siulan atau bunyi khas yang disepakati untuk bisa bersenda gurau atau bertemu lebih saling kenal dan saling mendekati sebelum menjadi suami dan istri. Tradisi Belerah ini dilakukan bujang gadis Pangkalan Balai Banyuasin yang diakui oleh adat sebagai bagian dari pendekatan yang dilakukan para muda mudi, namun tetap menjaga mereka tidak bisa berdekatan seperti muda mudi sekarang. Sayangnya, adat ini sesuai kemajuan tidak dipakai lagi oleh kaula muda di Banyuasin alias menghilang begitu saja.

Pada bagian lain, sejumlah kesenian yang sebetulnya merupakan adat istiadat milik Banyuasin, namun karena Banyuasin dahulu merupakan bagian dari Kabupaten Musi Banyuasin, maka seni tradisional asli Banyuasin justru menjadi milik Kabupaten Musi Banyuasin. Sebagai contoh tari Dana yang diciptakan H. BadrI Mamad tahun 1930, tari Nelayan diciptakan seorang seniman Sungsang dan tari Serambe. Tari-tarian ini sampai ditampilkanke luar negeri atas nama seni budaya Musi Banyuasin, bukan mengangkat citra dan nama baik akar budaya asalnya Kabupaten Banyuasin.

Ada pula adat pantun bersahut berbahasa Arab (disebut bejiker) yang dahulu sering diadakan pada saat mengarak pengantin pria yang biasa dilakukan oleh generasi-generasi muda zaman dulu. Sekarang adat ini menghilang tergerus zaman akibat generasi muda sekarang kurang memahami bahasa Arab. Menyadari banyak kesenian tradisional dan adat istiadat yang mengalami keadaan demikian hilang dengan sendirinya, Pemerintah daerah Kabupaten Banyuasin melalui Dewan Kesenian Banyuasin bekerjasama dengan Dinas Pariwisata, Seni, Budaya, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banyuasin melakukan penggalian dan menjemput kesenian tradisional yang terkubur lama di desa-desa untuk diangkat kembali sebagai seni budaya lokal yang seharusnya dapat dilestarikan. Untuk pelestarian itu kemudian diadakanlah berbagai festival seni tradisional dan kesenian Islam yang setiap tahun digalakkan di Banyuasin antara lain festival dulmuluk, festival sarofal anam, festival rebana, festival Barzanji, festival nasyid dan festival dangdut serta festival seni tari tradisional lainnya. Penyelenggaraan festival ini dalam rangka menggalakkan pembinaan kesenian tradisional kepada generasi muda sekaligus mencegah terkikisnya kesenian tradisional oleh kesenian luar (asing). Namun cukup banyak pula berbagai kesenian tradisional di Banyuasin yang tetap terlestari baik berupa seni tari, lagu-lagu maupun adat istiadat yang masih digunakan oleh masyarakat hingga sekarang (***)

—————————

Tulisan ini telah dimuat dalam buku Sejarah, Khasanah Budaya, dan Profil Potensi Kabupaten Banyuasin. (Penulis: Ajmal Rokian, dkk) diterbitkan oleh Dinas Pariwisata, Seni Budaya, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banyuasin (2014)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s