ADAT TEPUNG TAWAR DI BANYUASIN

Posted: 12 Mei 2016 in Berita Parsenpor, Catatan Budaya, Pariwisata dan Promosi, Seni Budaya

…. sesi pelaksanaan adat Tepung Tawar sebelum melakukan adat ini biasanya mengundang para pihak yang berselisih, atau bila pengantin mengundang keluarga terdeka….

UPACARA TEPUNG TAWAR ILUSTRASI

UpacaraTepung Tawar (ilustrasi)

ADAT Tepung Tawar merupakan kebiasaan yang dilakukan masyarakat Banyuasin yang terlestarikan sejak dahulu. Adat ini dipersiapkan dengan terlebih dahulu berupa menyediakan jeruk tipis, tepung beras yang ditumbuk hingga seperti bedak dan tujuh jenis bunga yang dicari dari desa tempat warga yang melakukan adat Tepung Tawar.
Adat ini harus dilakukan sebagai akibat adanya perselisihan atau perkelahian yang mengakibatkan salah satu atau keduanya mengeluarkan darah atau mengakibatkan kefatalan yang berat.
Selain mereka harus melaksanakan sanksi hukuman atas perbuatan melanggar keharmonisan hidup menurut hukum adat setempat, para pihak yang berselisih paham juga harus menjalani adat Tepung Tawar. Akan tetapi adat Tepung Tawar bagi masyarakat Banyuasinharus dilakukan terkait karena keluarnya darah dari para pihak.
Oleh karena itu adat Tepung Tawar juga berlaku bagi pasangan pengantin yang sudah menikah. Setelah mereka bercampur layaknya sebagai suami istri, beberapa hari kemudian pasangan pengantin ini juga harus melakukan adat Tepung Tawar.
Para pihak yang berselisih atau pengantin yang sudah menikah dalam sesi pelaksanaan adat Tepung Tawar sebelum melakukan adat ini biasanya mengundang para pihak yang berselisih, atau bila pengantin mengundang keluarga terdekat untuk melakukan adat mandi dalam acara Tepung Tawar.
Setelah ditetapkan hari pelaksanaan Tepung Tawar, dan para pihak yang dianggap perlu hadir sudah diundang, maka setelah semua syarat baik jeruk nipis, tepung beras ditumbuk serta kembang tujuh macam sudah ada, diadakanlah acara yaitu para pihak berselisih (atau pengantin) meminta didoakan melalui pemuka adat agar mereka rukun kembali atau dalam mengarungi kehidupan yang akan datang selalu diberikan keselamatan oleh Allah SWT.
Setelah doa itu, para pihak yang berselisih atau pengantin yang melaksanakan adat Tepung Tawar dimandikan oleh keluarga yang dipercaya untuk melakukan mandi Tepung Tawar. Acara ini lestari di beberapa desa di Banyuasin sampai sekarang. Tepung Tawar dilakukan dalam upaya mencari kedamaian hidup dan dengan harapan
menghilangkan kecemasan dan trauma akibat perselisihan atau kecemasan bujang dan gadis mengakhiri masa lajangnya untuk mengarungi kehidupan yang lebih besar tantangannya selama berkeluarga (***)

———————
Tulisan ini telah dimuat dalam buku Sejarah, Khasanah Budaya, dan Profil Potensi Kabupaten Banyuasin. (Penulis: Ajmal Rokian, dkk) diterbitkan oleh Dinas Pariwisata, Seni Budaya, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banyuasin (2014)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s