MARGA BANYUASIN ZAMAN KESULTANAN

Posted: 12 Mei 2016 in Uncategorized

…. Saat itu belum ada istilah camat dan belum ada pula sebutan asisten wedana. Ini artinya kehidupan Banyuasin diatur….

RUMAH PESIRAH PANGKALAN BALAI

Rumah Pesirah Pangkalan Balai

Pemerintahan marga di Banyuasin menurut Drs. H. Noer Muhammad tokoh Banyuasin yang menjadi Ketua Pembina Adat Kabupaten Banyuasin sudah terbentuk sejak zaman Kesultanan Palembang (1455-1825). Pejabat marga waktu itu disebut oleh Sultan Palembang dengan sebutan Rie atau Rijo (bukan kerio). Jabatan Rie ini terus menerus berganti-ganti menurut garis keturunan.

Anak Rie yang dianggap cakap, dialah yang menjadi Rie pengganti. Akhirnya sekitar tahun 1850 pada zaman Kolonial Belanda, jabatan rie berganti menjadi Pesirah Kepala Marga. Jika dua periode menjabat Kepala Marga dengan keberhasilannya, pesirah bisa diangkat menjadi pangeran. Pesirah di Banyuasin juga ada yang diangkat Belanda menjadi Pangeran seperti Pangeran Zainal Abidin di Pangkalan Balai. Pengangkatan Pesirah Zainal Abidin oleh Residen Belanda yang berkedudukan di Palembang. Pada zaman Pesirah memimpin di Banyuasin, Undang-Undang Simbur Cahaya juga digunakan dalam kehidupan sehari-hari, demikian pula pasal-pasal dari Undang-Undang ini yang direvisi Belanda juga dirasakan penduduk Banyuasin.

Seperti halnya daerah lain, Pesirah Banyuasin, saat itu bertanggung jawab kepada kountler, sedangkan kedudukan kountler Banyuasin berada di Talang Betutu Palembang. Saat itu belum ada istilah camat dan belum ada pula sebutan asisten wedana. Ini artinya kehidupan Banyuasin diatur dalam jalur hubungan dengan Residen Palembang. Namun, ditegaskan Noer Muhammad, hubungan transportasi darat antara Palembang dan Banyuasin sudah dibangun jalan oleh Kesultanan Palembang melalui Talang Betutu melewati Sukajadi menuju Suku Anak Dalam di Sungai Lilin sejak tahun 1800-an. Jalan ini dijadikan sarana transportasi oleh Kolonial Belanda untuk menguasai Banyuasin sampai ke Sungai Lilin. Sungai Lilin yang sekarang termasuk wilayah Kabupaten Musi Banyuasin, dahulu masuk dalam wilayah pemerintahan marga di Banyuasin. Jalan tersebut dahulu dilewati dengan berjalan kaki atau bergerobak. Barulah setelah zaman Belanda sering dilewati oleh mobil pasukan Belanda.

Bukti pemerintahan marga sudah ada di Banyuasin sejak Kesultanan Palembang diperoleh bukti sejarah dari Hazairin H. Zabidi, seorang tokoh Pangkalan Balai yang menjabat 9 tahun sebagai Kepala Desa Pangkalan Balai (1983-1992) dan menjadi anggota DPRD Musi Banyuasin dari Partai Golongan Karya dari tahun 1992 sampai 1997 yang kini menjabat Ketua Dewan Kesenian Banyuasin. Hazairin memiliki berkas garis keturunan keluarganya yang asli yang menunjukkan urutan 12 nama-nama yang pernah memimpin Marga Pangkalan Balai. Data tersebut ditulis oleh Pesirah Kepala Marga Depati Abdul Madjid atau kakek Hazairin. Dibagian atas berkas itu bertuliskan Lampiran I Stamb Pesirah Kepala Margadi Pangkalan Balai.

Bila masa jabatan ke-12 Kepala Marga di Marga Pangkalan Balai itu dijumlahkan maka pemerintahan pertama marga di Pangkalan Balai yang dijabat oleh Rijo Ngoenang hingga Pesirah Abdul Madjid sampai November 1947 mencapai 276 tahun 3 bulan. Dengan demikian pimpinan Marga Pangkalan Balai yang pertama Ngoenang ketika dia menjadi Rijo di Marga Pangkalan Balai sekitar tahun 1670-an atau pada abad ke-17 ketika Kesultanan Palembang sedang berkuasa. Nama-nama Kepala Marga Pangkalan Balai yang pernah memimpin tersebut terdiri dari:

  1. Ngoenang. Nama istrinya Sinom. Ngoenang, inilah yang mendirikan Desa Pangkalan Balai. Ia menjadi Kepala Marga Pangkalan Balai atau Rijo selama 37 tahun. Ia berhenti dengan hormat karena tua dan digantikan oleh anak kandungnya Boeang.
  2. Boeang beristri Peke. Ia menjadi Kepala Marga Pangkalan Balai bergelar Rijo menjabat 30 tahun dan berhenti dengan hormat karena tua lalu digantikan anak kandungnya Seli.
  3. Seli beristrikan Mane. Ia menjadi Kepala Marga Pangkalan Balai bergelar sebagai Rijo 33 tahun berhenti dengan hormat karena tua dan diganti oleh anak kandungnya Tjili.
  4. Tjili beristrikan Nake. Tjili menjadi KepalaMarga Pangkalan Balai bergelar Rijo menjabat 36 tahun berhenti dengan hormat karena tua, diganti anak kandungnya Mentadi.
  5. Mentadi, Kepala Marga Pangkalan Balai bergelar sebagai Pesirah menjabat selama 40 tahun berhenti dengan hormat karena tua diganti oleh anaknya bernama Zainal Abidin.
  6. Pangeran Zainal Abidin beristri dengan Jida. Zainal Abidin adalah Pesirah Kepala Marga Pangkalan Balai bergelar Pangeran menjabat sebagai Pesirah 36 tahun diganti anak kandungnya Moehamad Amiroedin.
  7. Moehamad Amiroedin beristrikan Tji’ Dap. Moehamad Amiroedin menjabat Pesirahselama 30 tahun dan berhenti dengan hormat karena sudah tua pada tahun 1923. Ia naik haji ke Mekkah dan karena dia tidak ada anak lelaki sedangkan dia mempunyai enam anak perempuan. Oleh karena itu pangkat Pesirah menyimpang dan terpilih menjabat Pesirah adalah Mamak bin Padjarali (Ipar Moehamad Amiroedin)
  8. Mamak bin Padjarali menjabat Pesirah selama 3 tahun enam bulan berhenti dengan hormat sebab tua dan sakit-sakit, diganti orang lain Seman bin Haji Adjiman
  9. Seman bin Haji Adjiman, menjabat Pesirah Pangkalan Balai 3 tahun dan diganti Moehammad Hasim
  10. Moehammad Hasim, menjadi Wakil Pesirah baru berjalan satu tahun lantaran kedapatan menggelapkan uang maka pada tahun 1930 diberhentikan dan dihukum penjara 1 tahun 6 bulan digantikan oleh Abdul Aziz.
  11. Pesirah Abdul Aziz adalah cucu nomor 2 dari Pesirah Pangkalan Balai Moehamad Aminoedin. Abdul Aziz menjabat sebagai Pesirah selama 3 tahun 6 bulan.
  12. Pesirah Abdul Madjid awalnya menjabat sebagai juru tulis marga selama 6 tahun 4 bulan. Lalu menjabat pangkat Pembarab selama 2 tahun 10 bulan. Sebelum menjadi Pesirah, berdasarkan Besluit Residen Palembang No. 243 tanggal 16 Maret 1934, Abdul Madjid ditetapkan sebagai Wakil Pesirah,kemudian berdasarkan Besluit Residen Palembang Nomor. 336 tanggal 14 Mei 1935 ditetapkan menjadi Pesirah Marga Pangkalan Balai dan berdasarkan BesluitResiden Palembang dari Pemerintah Republik Indonesia No. 17 tanggal 8 Februari 1947 ditetapkan kembali menjadi Pesirah di Marga Pangkalan Balai. Dalam tiga jabatan itu Pesirah (Depati) Abdul Madjid berarti mengabdi dalam pemerintahan marga selama 23 tanun 3 bulan sampai bulan September 1947. Sumber lain menyebutkan pejabat Pesirah berikutnya adalah H. Nuhasan, A. Somad, H. Badri Toha dan H. Zabidi Majjid.

Dahulu setiap marga memiliki Kantor Marga yang dibangun atas biaya sendiri oleh marga yang bersangkutan. Kantor Marga Pangkalan Balai, menurut Hazairin, berpindah-pindah. Pertama ada di Dusun Rimau kemudian pindah ke Dusun Galang Tinggi dan pindah lagi ke Desa Pangkalan Balai. Pada zaman Kolonial Belanda, marga diberi hak untuk hidup dan membayar pajak kepada Belanda yang dihimpun dari pemerintahan marga (***)

——————-

Tulisan ini telah dimuat dalam buku Sejarah, Khasanah Budaya, dan Profil Potensi Kabupaten Banyuasin. (Penulis: Ajmal Rokian, dkk) diterbitkan oleh Dinas Pariwisata, Seni Budaya, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banyuasin (2014)

Iklan
Komentar
  1. Andri berkata:

    Assalamualaikum. Pak bisa minta sejarah marga Rantau Bayur, saya kebetulan berasal dari Tebing Abang Laut tapi berdomisili di batam.

  2. Wa’alaikm salam. Pak Andri, mohon maaf sebab kami baru memiliki dari seperti yang tertulis di laman ini. Insya Allah akan kami bantu.
    Tks atas kunjungannya.

  3. Anonim berkata:

    Saran be sayang idek lengkap seharusnye yang nomor 13 sampai 16 diceriteke juge dan ngape cuma pesirah nomor 12 yang benyak diceriteke tapi idek disebutke karene ape jabatanye berakhir cak yang lain juge

  4. Anonim berkata:

    Ass. . Wr . . Wb . . Mohon maaf pak boleh ngk kalo saya baca tadi kantor pesirah pernah di desa galang tinggi, saya adalah putra asli galang tinggi dan skrng saya tinggal di Tanjung Balai Karimun ( KEPRI ) tolong donk di jelaskan sejarah dusun kami tersebut. Malah pak.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s