ADAT PERKAWINAN DI BANYUASIN

Posted: 16 Mei 2016 in Berita Parsenpor, Catatan Budaya, Pariwisata dan Promosi, Seni Budaya

PENGANTIN DI DESA SUNGSANG

Sepasang Pengantin di Desa Sungsang

 

Adat perkawinan di Kabupaten Banyuasin melalui beberapa tahapan yaitu:

MADIK:

Madik maksudnya menyelidiki. Kebiasaan Madik biasanya keluarga bujang atau bujang sendiri meminta ada utusan menyelidiki gadis yang diinginkan. Biasanya madik dilakukan oleh (utusan) bujang pada saat di rumahnya sedang ada keramaian sehingga ketika rumah gadis ini banyak dikunjungi orang (utusan) bujang dapat memperhatikan gerak-gerik dan kebiasaan-kebiasan kepribadian gadis tersebut secara seksama. Utusan madik kemudian melaporkan kepada keluarga bujang tentang kepribadian gadis yang diselidiki. Adat ini merupakan upaya bujang untuk mengetahui watak dan kebiasaan gadis yang diinginkannya itu, apakah pantas dijadikan istri atau tidak.

BERASAN

Seorang utusan datang ke rumah gadis dengan maksud untuk mendapat ketegasan dari gadis dan keluarganya apakah dia mau dilamar bujang atau tidak. Pada acara berasan ini biasanya bila memang gadis mau dipersunting bujang ini langsung berunding menyepakati kapan acara lamaran dan pernikahan dilaksanakan.

MELAMAR

Setelah mendapatkan jawaban “Gadis bersedia dipersunting” maka diadakan adat melamar yaitu bujang dan utusan dari keluarga atau sahabat terdekat datang ke rumah gadis dengan membawa gegawaan yaitu berupa tujuh rupa yang diletakkan di atas nampan serta membayar uang berdasarkan kesepakantan antara orang tua bujang dan gadis untuk uang persedekahan. Adat melamar ini sebagai simbol pemberitahuan pada masyarakat bahwa gadis sudah dipinang si bujang.

MENETAPKAN TANGGAL/HARI PERKAWINAN

Setelah persyaratan di atas terpenuhi, maka orang tua bujang dan gadis saat itu juga, bermusyawarah dalam kemufakatan untuk menentukan hari dan tanggal pernikahan guna mengundang kerabat dekat maupun jauh.

PERNIKAHAN/PERKAWINAN

Acara pernikahan dilaksanakan di rumah orang tua mempelai wanita. Sementara gadis menunggu, sebelum dilaksanakan akad nikah, bujang diarak ke rumah gadis, yang diiringi musik terbangan. Setelah keluarga gadis dan bujang semuanya hadir Keluarga gadis mengajak tamu membaca Al-Quran Surat Yasin baru kemudian dilaksanakan upacara ijab qobul. Setelah ijab qobul selesai, mempelai pria memasangkan mas kawin kepada gadis (mempelai wanita). Acara ini disaksikan para saksi dan undangan diakhiri dengan bersalam-salaman upacara selamat kepada kedua mempelai bahwa mereka sudah resmi menikah menjadi suami istri (***)

———————————–

Tulisan ini telah dimuat dalam buku Sejarah, Khasanah Budaya, dan Profil Potensi Kabupaten Banyuasin. (Penulis: Ajmal Rokian, dkk) diterbitkan oleh Dinas Pariwisata, Seni Budaya, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banyuasin (2014).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s