MUSIK TRADISIONAL KELENTANGAN

Posted: 16 Mei 2016 in Berita Parsenpor, Catatan Budaya, Lagu, Pariwisata dan Promosi, Seni Budaya

…. namun kemudian sejak zaman marga, alat musik ini dilestarikan oleh masyarakat Desa Tanjung Beringin sebagai kesenian tradisional. desa mereka. Musik Kelentangan akhirnya berkembang tidak hanya ditabuh di kebun-kebun….

GEDE MAT YASIN

Gede Mat Yasin

KABUPATEN Banyuasin memiliki alat musik tradisional yang disebut Musik Kelentangan. Musik ini unik terbuat dari kayu mahang yang tumbuh di hutan-hutan di Desa Tanjung Beringin, Kecamatan Banyuasin III, Kabupaten Banyuasin.

Musik tradisional Kelentangan terdiri dari sepuluh potong kayu mahang yang sudah dikupas kulitnya dan dibelah dua lalu dikeringkan beberapa hari hingga kering agar menimbulkan nada yang bagus ketika dipukul. Sepuluh potong kayu mahang yang sudah dikeringkan akan mengeluarkan nada mayor do, re, mi, fa, sol, la, si, do layaknya nada musik dari alat musik lainnya ketika diletakkan diantara dua batang pisang dan uniknya kayu-kayu mahang ini tidak mengeluarkan nada musik tersebut bila pengganjalnya bukan menggunakan pohon pisang.

Alat musik tradisional Kelentangan ditemukan tahun 1960. Orang yang menemukannya adalah Gede Mat Yasin, warga Desa Tanjung Beringin, Kecamatan Banyuasin III. Gede Mat Yasin menemukan kayu mahang menjadi alat musik secara kebetulan ketika sedang beristirahat di kebunnya. Ia mengambil kayu-kayu saat istirahat lalu memukul-mukuli potongan kayu kebetulan kayu mahang kering yang berada di dekat pondoknya itu sedang di atas tumpukan batang pisang. Kayu itu ternyata menimbulkan nada-nada musik. Bila kayu mahang yang sudah kering tadi diletakkannya diantara dua potongan batang pisang malahan mengeluarkan nada music yang indah tidak kalah dengan alat musik modern seperti sekarang.

KELENTANGANSarkoni, Ketua Kesenian Musik Tradisional Kelentangan Kabupaten Banyuasin mengatakan alat musik ini pada tahun 1960a-an hanya ditabuh saat orang-orang peladang beristirahat menunggu kebunnya sambil menghilangkan rasa penat (kelelahan) bekerja, namun kemudian sejak zaman marga, alat musik ini dilestarikan oleh masyarakat Desa Tanjung Beringin sebagai kesenian tradisional. desa mereka. Musik Kelentangan akhirnya berkembang tidak hanya ditabuh di kebun-kebun, tetapi juga sudah mulai dibunyikan untuk mengiringi berbagai kegiatan persiapan hajatan pernikahan di kampung-kampung.

Musik tradisional Kelentangan ini juga ditabuh ketika ada tamu kehormatan dan sudah ditampilkan di luar negeri. Pada saat hajatan pernikahan alat musik ini ditabuh terus selama tujuh hari tujuh malam berturut-turut secara bergiliran sambil ibu-ibu membuat kue-kue untuk acara pernikahan. Pada malam ketujuh Musik Kelentang Mahang akan menyanyikan Lagu Dalu, sebagai tanda bahwa pembuatan kue-kue pernikahan sudah masuk hari terakhir (ketujuh). Kemudian besok harinya tim Musik Tradisional Kelentang Mahang ini juga akan ditabuh ketika arak-arakan pengantin pria menuju rumah pengantin wanita.

KELENTANGAN1Grup Musik Tradisional Kelentangan terdiri dari lima orang; seorang penabuh kelentang kayu mahangnya, kemudian seorang menabuh nada kompres, seorang lagi menabuh ketipung dan dua orang menabuh gong.

Pada perkembangan selanjutnya Musik Kelentangan sudah memiliki syair lagu-lagu yaitu lagu Dalu yang biasa disenandungkan ketika tengah malam pada malam ketujuh pembuatan kue persiapan perayaan acara pernikahan. Kemudian lagu Ngarak Pengantin untuk mengiringi rombongan pengantin pria yang diarak menuju rumah pengantin wanita. Selain itu lagu Papak Mendek, lagu khusus menyambut tamu-tamu kehormatan yang datang ke Kabupaten Banyuasin.

Musik tradisional Kelentangan pernah ditampilkan dalam berbagai festival music tradisional tingkat provinsi, nasional bahkan secara internasional disejumlah negara. Musik tradisional ini sekarang hanya bias ditabuh oleh keturunan Gede Mat Yasin sebagai penemunya. Sekarang penabuh alat musik ini turun kepada keturunan Gede Mat Yasin bernama Bik Yam, namun beberapa generasi muda sudah mempelajari musik ini agar dapat dikembangkan dan ditampilkan di berbagai event dalam maupun luar negeri di bawah bimbingan Dinas Pariwisata, Seni, Budaya, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banyuasin.

Sayangnya, alat musik ini belum bias didapat di pasaran umum karena warga desa ini masih membuat untuk kerperluan tradisi kabupaten ini, demikian pula generasi muda belum menggunakan alat ini untuk lagu-lagu sekarang, sehingga diperlukan pembinaan. Dinas Pariwisata, Seni, Budaya, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banyuasin telah menjadikan alat musik tradisional ini sebagai aset penting dalam mendukung kemajuan pariwisata Banyuasin, karena itu alat musik ini selalu ditampilkan dalam kegiatan festival-festival musik, sehingga dapat diketahui banyak orang bahwa Kabupaten Banyuasin memiliki alat musik tradisional bernilai budaya lokal yang berkualitas (***)

————-

Tulisan ini telah dimuat dalam buku Sejarah, Khasanah Budaya, dan Profil Potensi Kabupaten Banyuasin. (Penulis: Ajmal Rokian, dkk) diterbitkan oleh Dinas Pariwisata, Seni Budaya, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banyuasin (2014).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s